MENEMBUS TEMBOK GAIB

 

Kehidupan manusia selalu dihadapkan pada halangan, hambatan dan tantangan. Semua berperan untuk membatasi kemajuan manusia. Tidak semua tembok dapat terlihat. Tembok paling berbahaya justru yang tidak terlihat. Sebuah tembok gaib. Tak dapat dilihat, tak dapat disentuh. Kelima indra manusia lumpuh tak berarti. Hanya akal dan hati yang telah mendapat cahaya Allah Swt, yang dapat menembusnya.



Tugas manusia adalah menembus tembok tersebut. Layaknya tembok yang berada dalam konteks ruang. Manusia terpenjara dalam ruang tertutup. Seluruh sisi terhalang tembok. Ketebalan tembok tak dapat diketahui. Keberadaannya pun sangat misterius. Untuk sekedar mengetahui keberadaannya saja sudah merupakan anugrah besar.

            Tembok gaib telah terbangun di alam dunia selama ratusan tahun. Diawali dengan kemenangan materialism sebagai cara pandang tunggal dunia. Seluruh dunia dipenjara dalam tembok gaib. Tak ada cara berpikir lain. Segala hal berbeda disebut alternatif, sebuah pilihan yang dianggap rendah disbanding cara berpikir mainstream (arus utama).

            Suku pedalaman yang hidup selaras dengan alam dianggap kaum rendah, tak beradab. Pertumbuhan ekonomi lewat eksploitasi manusia dalam wujud eksploitasi alam menjadi dambaan. Gedung tinggi yang membuat manusia terasing dari sesama dianggap sebagai simbol kemajuan. Dalam apartemen mewah, tiap manusia terpenjara dengan diri dan prasangkanya atas kehidupan. Individualisme merupakan trend kehidupan modern. Dan bersamaan dengan itu, tingkat depresi meningkat pesat.

            Negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi seringkali dibarengi dengan tingginya angka bunuh diri, perceraian dan kemiskinan ekstrim. Semua manusia menderita. Penderitaan semakin meningkat Ketika berusaha mengejar kebahagiaan yang dilambangkan dengan pemilikan harta. Nafsu berkuasa meraja. Tiap orang menjadi ingin lebih unggul dari lainnya. Manusia merasa lebih unggul dari makhluk lain di bumi. Karena itulah merasa berhak menjadi penguasa dunia. Alam diperlakukan sebagai sumber kekayaan diri. Manusia lain ditaklukan dan menjadi sumber tenaga penggerak bagi mesin penghasil modal.

            Kuasa dan harta berjalan beriringan. Materialism melahirkan individualism yang kemudian membuat manusia menjadi sangat egois. Memenuhi kebuAllah Swt diri adalah hal pokok. Perkara orang lain kelaparan dan miskin, bukan menjadi urusannya. Para manusia yang kekurangan itu dianggap kalah. Kekalahan akibat kelemahan diri. Tak mampu berkompetisi dalam kehidupan. Miskin dan lapar bukan masalah manusia lain. Itu kesalahannya sendiri akibat bodoh dan malas. Begitulah anggapannya. Hasilnya tentu saja penderitaan yang semakin meluas.

            Inilah tembok gaib yang menghalangi manusia melihat pilihan lain dalam hidup. Kita semua terpenjara dalam tembok gaib. Meskipun setiap manusia ingin dicintai oleh manusia lain. Egoisme mereka tetap menjadi tuan. Rasa cinta tak lagi didasarkan ketulusan. Kata ikhlas sangat langka dalam ruang penjara tembok gaib. Memenuhi kepentingan pribadi menjadi tujuan utama.

            Kehidupan di dunia dianggap sebagai satu-satunya. Akhirat hanyalah masa depan yang buram. Meskipun agama dianut oleh mayoritas manusia, dunia tetap saja berada dalam penjara. Lalu bagaimana cara kita untuk bebas dari tembok gaib? Tidak lain, tidak bukan dengan cara berusaha mengenal diri. Berpikir tentang hakikat diri. Dari mana kita berasal, kemana kita akan pergi. Berpikir mengenai Allah Swt.

            Diri kita sendiri harus mulai mencoba mengenal diri yang sejati. Menggunakan akal dan hati untuk menilai kehidupan. Semua dimulai dengan membebaskan pikiran kita. Berpikir bebas merupakan semboyan utama. Kemerdekaan berpikir akan menjadi jalan untuk menuju kebebasan. Cahaya Allah Swt akan memancar kepada mereka yang berusaha menemukan Allah Swt sejati dengan pikirannya, olah hatinya dan tindakannya. Merdeka berpikir, merdeka merasakan, dan merdeka bertindak dalam mencari kebaikan. Benar-benar kemerdekaan sejati.

            Tembok gaib itu bukanlah sesuatu yang alamiah. Tembok gaib ini buatan manusia. Karena dia buatan manusia, maka kita sebagai manusia pasti akan bisa menembusnya. Membebaskan diri darinya. Dan menjadi manusia mardhika (merdeka).

            Berpikir bebas tidak mudah dilakukan. Akan banyak halangan yang membuat kita kembali berjalan mundur ke arah penjara tembok gaib. Tidak semua manusia dapat menerimanya. Baik mereka yang takut dengan cara berpikir bebas, ataupun para penjajah yang tak mau manusia menyadari penjara tembok gaib yang terpasang. Ini akan menjadi sebuah petualangan Panjang. Mungkin akan memakan waktu seumur hidup. Namun, saya ingin menemani saudara semua menjalaninya. Semoga blog ini dapat menjadi teman setia dalam perjalanan paling penting dalam hidup saudara. Mari kita berjalan bersama. Sesungguhnya, kekuatan hanya ada dalam jamaah.

Comments