LAHIRNYA KRITIK ATAS PARENTING

 

Selama mengasuh dan mendidik anak, kami berdua sangat suka membaca berbagai buku parenting. Tak lupa kami mengikuti berbagai tayangan parenting di Youtube. Namun, ketika ide mengenai tauhid semakin menggumpal, tiba-tiba kami terpikir satu hal. Sebuah hal penting yang selama ini terlupakan ketika membaca parenting.

                Parenting menempatkan orang tua sebagai penentu masa depan anak. Orang tua merupakan pihak utama yang membentuk dan mengarahkan masa depan anak. Parenting melupakan Allah Swt sebagai penentu segalanya. Namun saat itu, kami masih kebingungan untuk membuat sebuah argumentasi kuat. Sampai kemudian saya secara tak sengaja menemukan dua tokoh penting dalam dunia Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ismail Ra’ji Al Faruqi.

                Penemuan ini sendiri terjadi ketika saya sedang iseng browsing jurnal. Saya memang memiliki hobi membaca, entah itu buku ataupun jurnal. Ketika menemukan dua nama ini, saya langsung memburu tulisan-tulisan mereka.

                Kedua nama yang saya sebut itu bukan sembarangan. Mereka tokoh besar dunia Islam di tahun 1980-an. Keduanya membawa sebuah tema yang sangat penting, yaitu Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Prinsip dasar teori mereka sederhanya begini, Dunia Islam perlu mengembangkan basis ilmu pengetahuannya sendiri. Jangan terus berkiblat pada Barat. Mereka ingin mengarahkan kiblat pikiran umat pada Ka’bah. Islam harus membangun ilmu dan pengetahuannya sendiri.

                Ismail Ra’ji Al faruqi mengatakan bahwa kekurangan dunia Islam adalah selalu mengikuti Barat dalam hal apapun termasuk dalam hal ilmu dan teknologi. Menurutnya, tindakan ini takkan membawa perubahan apapun. Justru akan membuat dunia Islam semakin terpuruk.

                Syed Muhammad Naquib Al-Attas melengkapi teori Islamisasi Ilmu Pengetahuan dengan konsep Ta’dib dan keadilan. Keadilan di sini bermakna meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai ketentuan Allah Swt. Perlu dipahami, konsep keadilan disini, sangat jauh berbeda dengan keadilan yang sering dibicarakan selama ini. Keadilan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas berdasar pada kehendak Allah Swt. Sedangkan keadilan yang selama ini banyak digunakan manusia, termasuk dalam dunia hukum murni berasal dari pikiran manusia.

                Ketika membaca buku dan tulisan kedua tokoh ini, kami menjadi sadar, bahwa parenting merupakan sebuah ilmu yang lahir dari budaya Barat. Parenting lahir dari rahim filsafat yunani kuno dengan nafas matrealisme. Akan sangat membosankan jika harus menjelaskan semua ini secara mendalam. Namun intinya, Parenting lahir dari rahim anti-Tuhan. Matrealisme merupakan filsafat anti-Tuhan. Sehingga wajar saja, teori-teori parenting, tidak ada yang mengakui kekuasaan Tuhan dalam menentukan tumbuh kembang dan masa depan anak.

                Singkatnya, parenting berada di luar tauhid.


Tulisan diambil dari buku berjudul "Pola Asuh di Dalam Tauhid: Sebuah Upaya Mengislamkan Pola Asuh Anak" dengan seijin penulis.

Comments