ILUSI KEBEBASAN
Mungkin tak ada mantra perang paling ampuh selain kata bebas. Semua pihak yang berperang selalu menggunakan kata bebas dengan semua bentuknya. Ketika hendak menyerang negara lain, ia akan menyebut tentaranya sebagai pasukan pembebas. Lalu negara yang diserang memobilisasi tentara dan rakyat atas nama berjuang mempertahankan kebebasan dan kemerdekaan. Adakah yang menyadari kedekatan kata freedom dengan free-doom, jarak antara kebebasan/kemerdekaan dengan malapetaka gratis hanyalah satu huruf “O”. Jangan gegabah ketika meneriakkan kebebasan, bisa saja justru itulah petaka yang menunggu dan kita mengambilnya dengan gratis.
Uni Soviet, RRC, Kamboja, Vietnam Utara, Korea Utara ketika memperjuangkan komunisme juga meneriakkan semangat kebebasan dari penjara kapitalisme. Hasilnya, bisa anda lihat sendiri diberbagai literatur, betapa banyak rakyatnya yang harus menderita, tewas, dipenjara dan disiksa atau mati kelaparan di bawah rezim komunis. Selama kurun waktu 1917 – 1991, Partai Komunis membantai 120 juta manusia di 76 negara sehingga rata-rata 4.500 orang sehari selama 74 tahun (Courtouis:2000, Chang & Halliday:2006)
Lain lagi dengan kapitalisme. Jurus mereka sederhana, tetapi ampuh, yaitu kebebasan pasar. Hanya dua kata. Hemat tenaga mengucapkannya. Namun tidak dengan dampaknya yang telah begitu boros menyedot kekayaan alam dan manusia ke dompet segelintir orang. Dampaknya ketimpangan pendapatan terjadi. Sebagian manusia harus mengalami kemiskinan, kelaparan, tertimpa bencana karena kehancuran alam. Sementara sebagian kecil lainnya menumpuk uang hasil akumulasi kapital.
Baik komunisme dan kapitalisme sama-sama meneriakkan kata “bebas”. Lewat kata ini, keduanya menciptakan elit yang kemudian menjajah sebagian besar manusia lainnya. Komunisme menjajah lewat penguasaan politik, kapitalisme melalui penguasaan ekonomi. Di ujungnya nanti, baik kapitalisme maupun komunisme akan menguasai ekonomi dan politik negara. Lagi-lagi kata bebas digunakan untuk menjajah. Kita sebut saja komunisme dan kapitalisme sebagai saudara kembar. Toh, keduanya sama-sama berusaha menguasai alam dan manusia demi kepentingan segelintir elit penguasa.
Apakah ada pembaca yang ingat peristiwa 1998 ketika ribuan mahasiswa berdemo dan meneriakkan reformasi? Saat itu, kata-kata seperti demokrasi, kebebasan berpikir, kebebasan menyampaikan pendapat dan kebebasan berekspresi menjadi primadona. Pokoknya saat itu semua yang menentang kepemimpinan Presiden Soeharto meneriakkan kebebasan. Dan rasanya sangat heroik ketika teriakan lantang tersebut berhasil menurunkan Presiden yang telah berkuasa 32 tahun tersebut. Terbayanglah masa depan Indonesia yang makmur, adil dan yang pasti lebih bebas. Bayangan yang sekarang kita ketahui begitu utopis dan juga naif. Kenyataannya, tak lama setelah reformasi terjadi sesuatu yang disebut kudeta putih, sebuah tindakan makar yang dilakukan dengan merubah Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang lainnya yang menyebabkan krisis berkepanjangan menimpa Indonesia. Hasil kudeta putih tersebut aset penting Indonesia tergadai, ekonomi semakin bergantung pada modal asing, hutang semakin menumpuk dan secara keseluruhan Indonesia semakin terjerat oleh kekuatan asing.
Ah, lagi-lagi ilusi kebebasan berhasil membuat manusia lengah. Entah sampai kapan ini akan terjadi. Manusia memang selalu terjebak dengan satu kata itu. Mungkin manusia memang dikutuk dengan kata bebas. Memangnya bagian mana dari manusia yang bebas. Jantung, paru-paru, usus, lambung, semuanya bekerja tanpa diperintah manusia, otomatis dan tak terhentikan. Tak ada gunanya perintah ke jantung untuk menyuruhnya berhenti berdetak. Jantung akan terus berdetak dan kemudian berhenti berdetak semaunya sendiri.
Sama dengan mainan mutakhir zaman ini yang bernama demokrasi liberal. Katanya manusia Indonesia bebas memilih pemimpin negeranya. Kenyataannya, pilihan yang tersedia merupakan hasil akhir dari kepentingan partai-partai politik. Nama-nama yang disodorkan kepada rakyat saat pemilu merupakan hasil pilihan partai politik. Rakyat sejatinya tidak bebas memilih. Sebenarnya, rakyat hanya memilih wakil yang dipilihkan partai politik.
Parahnya lagi, partai politik pun bukan organisasi yang bebas. Ada banyak hal yang mengikat mereka. Partai politik butuh dana untuk hidup.Para pendonor dana kehidupan partai memiliki kuasa tidak kecil terhadap kebijakan partai. Para pendonor ini adalah para elit tingkat lokal-regional yang menguasai kekayaan besar. Perputaran kekayaan para elit regional ini pun bergantung pada kondisi ekonomi dunia Internasional yang dikuasai oleh elit tingkat global. Para elit global ini juga membutuhkan kekayaan alam Indonesia untuk menopang kerajaan ekonomi mereka. Maka terbukalah realitas sebenarnya dari kebebasan memilih dalam pemilu Indonesia.
Ah, sudahlah,lupakan saja, yang penting setiap lima tahun sekali, rakyat Indonesia menggelar pesta demokrasi atas nama kebebasan. Kemudian pemilu akan menjadi begitu meriah. Rakyat datang ke TPS dengan busana terbaik untuk memberikan suaranya dengan bebas, tanpa tekanan. Semua merasa bangga karena telah menyuarakan kebebasannya. Lalu setelah masa bulan madu berlalu, rakyat kecewa dengan pemimpin yang telah dipilih dan menjalankan protes. Di masa protes muncul icon baru, sang pahlawan baru yang tak lupa menyuarakan kebebasan. Rakyat mendukung pahlawan baru melawan penguasa. Pahlawan baru lalu memang dan beralih menjadi penguasa baru. Setelah merasakan nikmat berkuasa, pahlawan pembebas kemudian berubah menjadi penguasa penindas.
Bebas, kebebasan, pembebasan, dibebaskan, terbebaskan. Rangkaian kata ini telah membuat manusia melakukan hal-hal diluar nalar. Pembantaian, perang, penghancuran, kekejian tak terhingga, semua dilakukan atas nama kebebasan. Hitler memulai perang dunia dua demi kebebasan bangsa Jerman. Lalu negara Eropa membalas Jerman atas nama kebebasan pula. Jepang menghantam Pearl Harbour dengan alasan sama.Begitu juga ketika Amerika Serikat membunuh ratusan ribu manusia dengan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Seakan semua kekejian ini menjadi ritual, di mana atas nama kebebasan, nyawa manusia menjadi tumbalnya. Banjir darah ini hanya untuk mengejar satu kata, bebas.
Sayangnya, manusia takkan mendapatkan kebebasan bahkan setelah kematiannya. Di dunia ini, hanya ada dua pendekatan mengenai hidup setelah kematian, yang satu dari golongan atheis dan lainnya dari kelompok agama. Kaum atheis berkata, tak ada apapun setelah kematian. Kaum agama sebaliknya, manusia akan diadili oleh Tuhan. Baik kaum atheis dan agama, tak ada yang menyuarakan kebebasan. Jika setelah meninggal manusia menghilang sepenuhnya, artinya tak ada kebebasan. Karena keadaan bebas baru bermakna jika diikuti adanya eksistensi. Begitu juga dengan pengadilan Tuhan, di mana manusia menjadi narapidana di dalamnya.
Lalu di manakah manusia bisa menemukan kebebasan? Untuk menemukan jawaban ini, penulis ingin mengajak pembaca melihat ke langit lewat sebuah prosa.
Sayang, apakah kau lihat langit itu? Biru, cerah, cemerlang. Sukakah engkau melihatnya? Kau tahu sayang, langit merupakan lambang kebebasan manusia. Begitu luas dan tak berhingga. Namun janganlah kau pergi ke langit. Engkau dapat melihat keindahannya dari jauh, begitu biru, cerah dan luas. Namun begitu kau berusaha meraihnya, tak ada warna biru di sana. Kau hanya akan berada di tempat gelap bernama angkasa.
Sayang, kau boleh saja mengagumi langit. Bermimpi untuk menggapainya pun boleh. Tapi, cukup jadikan ia bunga tidurmu. Karena langit tak pernah ada.

Comments
Post a Comment