MERENGGUK HIKMAH PUISI KAHLIL GIBRAN
ANAKMU BUKANLAH MILIKMU
Anakmu
bukanlah milikmu,
mereka
adalah putra-putri sang Hidup,
yang
rindu akan dirinya sendiri.
Mereka
lahir lewat engkau,
tetapi
bukan dari engkau,
mereka
ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah
kasih sayangmu,
namun
jangan sodorkan pikiranmu,
sebab
pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut
kau berikan rumah bagi raganya,
namun
tidak bagi jiwanya,
sebab
jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang
tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun
dalam mimpimu.
engkau
boleh berusaha menyerupai mereka,
namun
jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab
kehidupan tidak akan pernah berjalan mundur,
ataupun
tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah
busur asal anakmu,
anak
panah hidup, melesat pergi.
Sang
Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia
merentangkanmu dengan kuasa-Nya,
hingga
anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah
dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab
Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana
dikasihi-Nya pula busur yang mantap.
MERENGGUK HIKMAH PUISI KAHLIL GIBRAN
Puisi
di atas menggunakan perumpamaan busur dan anak panah. Perumpamaan ini sangat
tepat. Allah SWT sebagai Sang Pemanah, yang memiliki busur (orang tua) dan anak
panah (anak). Busur adalah alat yang berdiri sendiri. Anak panah juga alat yang
berdiri sendiri. Keduanya baru menunjukkan fungsinya ketika digunakan oleh Sang
Pemanah.
Sang Pemanahlah yang menyatukan busur
(orang tua) dan anak panah (anak). Sang Pemanah merentangkan busur dan
melepaskan anak panah. Busur tidak bisa menggerakkan anak panah dengan sendirinya.
Seperti orang tua yang tidak bisa secara langsung menggerakkan anaknya. Allah
lah yang menggerakkan anak dan orang tua lewat qada dan qadar-Nya.
Maka, anak kita bukanlah milik kita. Anak
dan diri kita adalah milik Allah SWT. Jangan pernah berpikir bahwa anak adalah
milik orang tua yang keberadaannya demi mengabdi kepada orang tua. Baik anak
ataupun orang tua hanya mengabdi kepada Allah SWT. Orang tua adalah busur,
tempat anak panah bersemayam sesaat sebelum dilesatkan Sang Pemanah pergi
meninggalkan busurnya.
Hubungan sejati adalah antara Sang
Pemanah (Allah SWT) dengan busur panah (orang tua) dan antara Sang Pemanah
(Allah SWT) dengan anak panah (anak). Tanpa Sang Pemanah, busur dan anak panah
tidak berfungsi.
Teori parenting
konvensional bertindak seakan-akan orang tua adalah Sang Pemanah, yang
mengarahkan anaknya dan memastikan masa depannya. Hal ini tentu salah sama
sekali. Pemahaman yang salah ini sayangnya seringkali tidak disadari sehingga
menciptakan tindakan yang salah pula. Bahkan Islamic parenting pun mengambil bentuk pemahaman yang kurang lebih sama.
Comments
Post a Comment