HAKIKAT HUBUNGAN SEJATI MANUSIA DAN ALLAH SWT

 

Penulis memisahkan orang tua dengan anak dan menyatukan masing-masing dengan Allah Swt karena memang itulah hubungan yang sejati.

Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari kiamat...

Maryam ayat 95

       Seluruh manusia akan datang menghadap Allah Swt sendirian. Tidak dengan istri, anak, teman, pimpinan atau ulama sekalipun. Pada hari kiamat nanti, manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya pada Allah Swt. Hanya pada Allah Swt semata.

       Sehingga jelas di sini bahwa tanggung jawab kita hanya pada Allah Swt, bukan pada anak, istri, teman, bawahan atau lainnya. Memang anak kita bisa menagih kesalahan orang tua di akhirat nanti. Hanya saja, permintaan pertanggung jawaban itu tidak bisa dilakukan secara langsung, harus melalui perantaraan Allah Swt terlebih dahulu. Semua berjalan atas ijin dan perkenaan Allah Swt. Ini artinya, Allah Swt menjadi perantara hubungan kita dengan anak, perantara antara manusia dengan sesamanya.

"Katakanlah : 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakanlah: 'Allah'. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu...."

Al-An'am ayat 19

       Al-Quran menjelaskan bahwa sebenarnya hubungan kita dengan orang lain berlangsung melalui perantara Allah Swt. Kita tidak pernah memiliki hubungan langsung dengan orang lain. Manusia dengan sesamanya hanyalah seakan-akan dihubungkan. Hubungan antara manusia sejatinya tidak pernah nyata. Hanya hubungan dengan Allah Swt yang nyata, langsung, tanpa perantara.

       Ketika manusia menyakiti sesamanya, tindakan itu menjadi dosa karena menyakiti "sesuatu yang menjadi milik" Allah Swt. Ayah yang dzolim pada anak, sejatinya tidak secara langsung menyakiti anak tersebut, tetapi ia telah menyakiti Allah SWT secara langsung. Karena anak adalah milik Allah Swt. Setiap manusia adalah milik Allah Swt.

       Dan ketika orang tua berbuat baik kepada anak, sejatinya keduanya juga berbuat baik kepada Allah Swt. Karena kedua orang tua menjaga dan merawat "milik/kepunyaan" Allah Swt. Hal ini dijelaskan pula dalam banyak ayat Quran dan hadis.

Pada hari kiamat Allah menegur seseorang,"Wahai anak Adam, saat Aku sakit, kenapa kau tidak menjenguk-Ku?" Orang itu menjawab, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan mendoakan-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan sekalian alam?" Allah menjawab,"Tidakkah kau tahu bahwa hamba-Ku si fulan itu sakit. Namun kau tidak menjenguk-Ku. Tahukah kau, kalau kau menjenguknya, kau akan mendapati Aku di sisinya" (HR. Imam Muslim)

       Inilah hakikat hubungan yang sebenarnya. Hubungan yang nyata hanyalah dengan Allah Swt. Hubungan dengan selain Allah Swt adalah ujian manusia di dunia.

       Menolong orang lain, sejatinya kita menolong Allah Swt. Menghibur orang kesusahan, sejatinya kita menghibur Allah Swt. Menolong orang lain yang terdzolimi, sejatinya kita telah menolong Allah Swt. Bersedekah pada orang lain, sejatinya kita bersedekah kepada Allah Swt.

Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan

Al Baqarah ayat 245

       Tidak mungkin Allah Swt membutuhkan sesuatu apapun dari manusia. Pinjaman yang baik adalah perbuatan baik kita pada sesama manusia yang merupakan ciptaan Allah SWT. Allah Swt sangat mencintai dan menyayangi manusia, sehingga siapa yang berbuat baik kepada manusia, sama saja berbuat baik kepada Allah Swt. Begitu pula sebaliknya, siapa yang berbuat jahat, menyakiti, mengeksploitasi manusia lain, artinya telah berbuat jahat kepada Allah Swt.

       Manusia yang sangat suka menyakiti orang lain akan dibenci dan ditinggalkan oleh Allah Swt. Tindakan jahatnya telah merusak hubungannya dengan Allah Swt. Pada saat itu maka Allah Swt tidak akan peduli lagi dengan apapun yang terjadi dengan diri orang tersebut. Berperilaku baik kepada orang lain merupakan tujuan utama dakwah Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah bersabda, " Sesungguhnya Aku diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia" (HR. Imam Baihaqi)

       Perbuatan baik yang dilakukan terhadap semua makhluk Allah Swt, baik manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya termasuk jin merupakan sebuah kebaikan di mata Allah Swt. Bila semua itu dilakukan ikhlas karena Allah Swt, takut menyakiti anak dan istri karena takut dengan Allah Swt yang memiliki dan menciptakan manusia, itu merupakan bentuk ibadah. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan akan menambah kedekatan manusia dengan Allah Swt dan ketika Ia berkenan, manusia tersebut akan diperkenankan menyatu dengan Tuhan-Nya.

Rasulullah bersabda,"Allah berfirman, "Siapa yang memusuhi kekasih-Ku atau wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya (HR. Imam Bukhari)

       Jelaslah bahwa hakikat dari segala hubungan adalah hubungan Allah Swt dengan seluruh ciptaan-Nya termasuk manusia di dalamnya.


Musuh Allah Swt adalah manusia yang menyakiti sesamanya, dan terutama menyakiti kekasih-Nya. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, kita tidak pernah tahu siapakah orang yang menjadi wali atau kekasih Allah Swt ini. Sehingga bila kita semena-mena terhadap orang lain yang dianggap rendah dan ternyata dia adalah kekasih Allah Swt, maka habislah kita. Bila penguasa alam semesta telah menjadi musuh, siapakah yang dapat menolong.

       Hubungan antara orang tua dan anak juga tidak selalu berjalan mulus. Seringkali terdapat berbagai masalah, entah orang tua yang dzolim pada anak, ataupun anak yang dzolim pada orang tua.

·           Orang tua yang menyakiti anaknya, maka ia menyakiti Allah Swt.

Dalam kasus ini, anak diharapkan tetap berbuat baik kepada orang tua serta memaafkannya. Ini akan menjadi pahala kebaikan bagi anak. Berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban anak yang ditetapkan oleh Allah Swt. Terkait orang tua yang dzolim maka Allah Swt yang akan memberikan keputusan-Nya, apakah akan memaafkan atau tidak.

·           Anak yang menyakiti orang tua juga telah menyakiti Allah Swt

Bila orang tua ikhlas menerima kenyataan ini (qada dan qadar) dan terus - menerus berusaha menjalankan tugasnya sebagai orang tua sebaik mungkin, maka ia akan mendapat ridha Allah dan surga-Nya, insya Allah.

·         Allah memberi tugas kepada orang tua

·         Allah memberi tugas kepada anak

Allah Swt ibarat guru yang memberikan soal ujian praktek kepada manusia (orang tua dan anak) yang masing-masing memiliki soal berbeda. Orang tua dan anak diwajibkan menyelesaikan soal ujian praktek tersebut dengan baik, sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. Hasil ujian akan diserahkan kepada Allah Swt untuk dinilai. Orang tua yang menjalankan ujian dengan baik akan lulus. Anak yang menjawab dengan sempurna juga akan lulus.

Baik orang tua dan anak, masing-masing memiliki soal ujian yang berbeda.

       Islam memiliki konsep indah yang mengatur hubungan antara orang tua dengan anak. Konsep ini disebut birr al walidain. Secara singkat konsep tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut,

-- Allah Swt memberi soal ujian praktek pada orang tua dan anak. Inti soal ujian adalah orang tua dan anak masing - masing harus mampu membangun hubungan yang baik, berlomba dalam kebaikan.--

       Islam mengedepankan keadilan. Tidak hanya orang tua yang dituntut berbuat baik, anak juga memiliki kewajiban untuk berbuat baik kepada orang tua. Teori parenting tidak memiliki konsep lengkap seperti ini, karena parenting lahir di budaya Barat yang memiliki pemahaman berbeda dengan budaya timur yang bercorak Islam.

       Keadilan ini juga tercermin dalam doa kepada orang tua yang diajarkan kepada anak-anak,

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah/rawatlah mereka seperti keduanya menyayangi/merawatku diwaktu kecil

       Doa ini memperlihatkan orang tua hanya berhak atas kasih sayang dari Allah Swt sebesar kasih sayang yang mereka berikan pada anak-anaknya. Doa ini merupakan berita gembira dan peringatan bagi orang tua supaya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

       Sampai di sini menjadi jelaslah bahwa ,

·           Dimensi hubungan riil/sejati adalah dengan Allah Swt

·           Dimensi hubungan orang tua dengan anak diperantarai Allah Swt, bersifat ujian dan berjalan tidak langsung


       Konsep parenting sama sekali mengabaikan dimensi hubungan manusia dengan Allah Swt yang merupakan hakikat hubungan sejati. Parenting hanya mengakui dimensi hubungan orang tua dengan anak, yang sejatinya bukan hubungan langsung dan terjadi dalam perantaraan Allah Swt.

       Bila kita mencoba memasukkan dimensi hubungan Allah Swt dengan manusia ke dalam teori parenting, maka ia akan berubah total dan ambruk. Pondasi teori parenting bukanlah tauhid. Sedari awal, teori parenting menempatkan orang tua sebagai faktor utama yang berpengaruh pada anak. Kenyataan ini sangat jelas terlihat dari penggunaan nama untuk menyebut pengasuhan, "parenting".

       Secara bahasa, parenting berasal dari dua kata, parent (orang tua) + ing (melakukan suatu tindakan/kerja). Secara umum diartikan dengan, tindakan menjadi orang tua. Secara istilah, dua kata ini tidak berhubungan dengan dimensi Illahiah (Ketuhanan).

       Dalam dunian akademis salah satu definisi parenting adalah purposive activities aimed to ensuring the survival and development of children (Hoffman dalam Sri Rahmawati, hal. 8). Parenting adalah aktivitas/tindakan yang ditujukan untuk memastikan keberlangsungan dan perkembangan anak. Di sini, orang tua adalah pihak utama yang melakukan tindakan yang dianggap menentukan hasil akhir parenting.

       Definisi ini menempatkan orang tua sebagai faktor utama yang paling berpengaruh dalam parenting. Bahkan parenting Islami sekalipun tetap berangkat dari makna parenting ini. Ibarat sebuah rumah, parenting Islami memiliki pondasi dasar dari teori parenting barat, namun dengan dekorasi yang berbeda.

Konsep parenting menganggap bahwa orang tua (manusia) memiliki kekuasaan terhadap anak (manusia) yang membuatnya dapat mengontrol dan mengarahkan perilaku dan tindakan anak. Ketika orang tua gagal mengontrol dan mengarahkan tindakan anak, mereka akan kecewa. Ketika berhasil orang tua akan merasa itu adalah hasil kerja kerasnya semata. Tanpa berpikir bahwa itu adalah rahmat Allah Swt.

       Kisah Nabi Nuh as. penulis rasa dapat menjadi sebuah contoh nyata di sini. Nabi Nuh as. tak diragukan lagi adalah manusia paling sholeh di masanya. Beliau tentu adalah sosok ayah terbaik di masanya yang telah menjalankan upaya tarbiyah (pengasuhan) dan ta'dib (pendidikan) dengan cara yang terbaik. Melihat hal ini sudah seharusnya semua anaknya tumbuh menjadi manusia sholeh.

       Namun kenyataan (qada dan qadar) berkata lain. Anak tertuanya yang bernama Kan'an justru menjadi kafir. Ia menolak menaiki kapal bersama Nabi Nuh as. dan akhirnya tenggelam bersama jutaan orang kafir lain di seluruh dunia yang terkena bencana air bah. Ini merupakan sebuah ujian luar biasa besar dan berat bagi seorang ayah. Ini adalah ketentuan dari Allah Swt. Sesempurna apapun, sehebat apapun upaya pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan, bila Allah Swt berkehendak lain, maka tidak ada yang bisa dilakukan selain ikhlas.

       Jika kita menggunakan teori parenting untuk menilai Nabi Nuh as, bukan tak mungkin kita akan menyalahkan Nabi Nuh as atas kekafiran anaknya. Karena dalam teori parenting, apapun yang terjadi kepada anak adalah tanggung jawab orang tua.

       Bisakah kita menyalahkan Nabi Nuh a.s atas kekafiran anaknya? Orang tua yang lalai menjalankan tugasnya akan masuk neraka. Apakah masuk akal Nabi Nuh as masuk neraka? Tentu saja tidak, karena Nabi Nuh as telah melakukan seluruh kewajibannya dalam mendidik dan mengasuh anaknya. Selama orang tua telah melaksanakan kewajibannya, maka apapun yang terjadi pada anak, tidak akan dianggap sebagai kesalahan orang tua. Allah Swt memiliki penilaian yang berbeda dengan manusia.



Tulisan diambil dari buku berjudul "Pola Asuh di Dalam Tauhid: Sebuah Upaya Mengislamkan Pola Asuh Anak" dengan seijin penulis.

Comments

Popular posts from this blog

MENEMBUS TEMBOK GAIB

ILUSI KEBEBASAN

HAKIKAT ILMU