KESALAHAN CARA BERPIKIR TEORI PARENTING
Seluruh
teori parenting yang ada saat ini
berangkat dari kerangka pemikiran yang salah. Secara sederhana pemikiran
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut,
Teori parenting
mengandaikan bahwa ketika orang tua memberikan perlakuan tertentu, maka akan
memberikan perubahan pada diri anak secara langsung. Di sini orang tua menjadi
penyebab utama dari terciptanya anak sholeh atau anak nakal. Allah SWT tak
pernah disebut di dalamnya dan tak dianggap sebagai satu-satunya penyebab dari
segala hal.
Dalam
parenting seringkali kita dapatkan
hal-hal seperti berikut :
·
Lakukanlah hal ini, jika
ingin anak anda patuh.
·
Jalankan metode ini
supaya anak mandiri
·
Ajarkan teknik ini sedari
dini, supaya anak rajin sholat.
Semua perintah, anjuran dan masukan dalam
parenting berjalan seperti ini, orang
tua melakukan sesuatu teknik tertentu, dan akibat dari teknik tersebut sifat
dan pembawaan anak anak berubah. Sehingga penyebab perubahan anak dalam hal ini
adalah orang tua, bukan Allah SWT. Seakan-akan orang tua memiliki kuasa
langsung terhadap anak. Orang tua dapat membentuk anak seperti apapun asalkan
tekniknya tepat.
Mari
melihat firman Allah SWT berikut,
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk
kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk
Al-Qashash ayat 56
Ayat ini turun berkenaan dengan kesedihan
Nabi Muhammad SAW yang tidak mampu membuat pamannya, Abu Thalib, orang yang
selama ini melindunginya sepenuh hati dari gangguan kafir Quraish, untuk bersyahadat
hingga akhir hayatnya.
Seorang Rasul tertinggi dan penutup para
Nabi, Yang Mulia Kekasih Allah Muhammad SAW, tidak mampu memberikan hidayah
kebaikan kepada manusia tanpa seijin Allah SWT. Bagaimana mungkin manusia
biasa, seperti kita, mampu merubah anak menjadi sholeh. Tanpa ijin Allah, tentu
tidak akan bisa. Sejatinya kita para orang tua hanya mampu berusaha sebaik
mungkin. Perubahan anak ada di tangan Allah SWT semata.
Sebagai seorang muslim sebaiknya ketika
kita bicara tentang parenting, maka
perlakukan ilmu tersebut seperti perintah Allah SWT berikut ini,
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan
Al-Alaq ayat 1
Tafsir daring dari Kemenag (Kementerian
Agama) menyebutkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah kita harus membaca
ayat-ayat Allah Swt dan mendalaminya sehingga mendapatkan ilmu-ilmu yang
bermanfaat. Ayat-ayat Allah Swt adalah segala sesuatu yang ada di alam semesta
yang merupakan ciptaan-Nya dan menjadi tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Sedangkan tafsir Al-Misbah menyatakan
kata "iqra" (bacalah)
bermakna membaca, menelaah, meneliti, menyampaikan. Segala hal selama
bermanfaat dapat menjadi objek "iqra"
(bacaan) mulai dari buku, majalah, novel, komik, apa saja. Satu hal yang
penting, semua bacaan tersebut harus dikaitkan dengan firman Allah SWT (Shihab,
hal. 392)
Bila diaplikasikan kepada bacaan yang
berisi ilmu parenting, maka kita harus
membaca, menelaah, meneliti dan menyesuaikannya dengan firman Allah SWT, supaya
mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Berdasarkan pemahaman in, penting bagi
kita untuk memasukkan ilmu parenting
ke dalam Islam dan memahaminya dalam koridor Islam. Pemahaman yang pertama kali
harus diwujudkan adalah mengenai perbedaan peran manusia dengan peran Allah
SWT. Seperti dikatakan sebelumnya, peran manusia adalah berusaha sebaik
mungkin. Sedangkan peranan Allah SWT adalah menentukan hasil akhirnya.
BANJIR BANDANG TEORI PARENTING
Saat ini kita telah dikepung oleh begitu
banyak teori dan jenis parenting.
Tumpang tindih satu sama lain dengan berbagai penamaan yang beraneka ragam yang
membuat masyarakat semakin bingung. Anda takkan percaya betapa banyaknya jenis parenting yang beredar di Indonesia.
·
Drone parenting
·
Helicopter Parenting
·
Peacefull Parenting
·
Parenting
otoritatif (authoritative parenting/propagative
parenting)
·
Parenting
permisif (permissive parenting/indulgent
parenting)
·
Parenting
acuh tak acuh (uninvolved parenting)
·
Parenting
sembrono (neglectfull parenting)
·
Parenting
otoritarian (authoritarian parenting)
·
Parenting
kasih sayang (attachment parenting/intuitive
parenting/natural parenting)
·
Parenting
positif (positive parenting)
·
Parenting
narsistik ( narcissistic parenting)
·
Parenting
pendampingan (nurturant parenting)
·
Holistic parenting (spiritual parenting)
·
Slow parenting
·
Toxic parenting
·
Parenting
lumba-lumba (dolphin parenting)
·
Parenting
ubur-ubur (jellyfish parenting)
·
Parenting
hipnosis (hypno parenting)
·
Parenting
berlebihan (hyper parenting)
·
Parenting
ala macan (tiger parenting)
·
Parenting
ala gajah (elephant parenting)
·
Parenting
mercusuar (lighthouse parenting)
·
Parenting
tanpa syarat (uncoditional parenting/conscious
parenting)
·
Digital parenting
·
Optimistic parenting
·
Parenting
Islami (islamic parenting)
·
Parenting
ala nabi (prophetic parenting)
·
Parenting
millenial
·
Smart parenting
·
Enlightening parenting
·
Marine parenting
·
Gender-neutral parenting
Saya akan membuat para pembaca bosan bila
harus menjelaskan satu persatu berbagai jenis pendekatan parenting tersebut. Masing-masing memiliki perbedaan dengan lebih
banyak persamaan. Namun yang pasti, seluruh teori yang beredar saat ini tidak
ada satupun yang mengakui eksistensi Allah SWT sebagai penentu akhir.
Comments
Post a Comment