MEMULAI KRITIK TERHADAP PARENTING

 

Ibrahim lahir dalam kondisi penuh kekacauan. Saat itu berkuasa seorang raja yang sangat berkuasa dan kejam bernama Namrudz. Ia menindas kaum lemah dengan kekuatannya. Kehidupan politik begitu rusak, dipenuhi korupsi. Disertai kerusakan sistem sosial-budaya-agama.

       Sang ayah, Azar seorang pembuat berhala, sekaligus penyembah berhala yang taat. Begitu taatnya hingga ia membiarkan anaknya, Ibrahim dibakar hidup-hidup karena merusak patung berhala. Ketika Ibrahim dibakar, sang ayah ikut menyaksikan.

       Inilah gambaran lingkungan di mana Ibrahim menjalani masa kecilnya hingga remaja. Bila dipikirkan secara mendalam dan rasional, anak yang tumbuh di lingkungan yang buruk terlebih diasuh oleh ayah yang tenggelam dalam kehidupan  jahiliyah, tentu ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak berbeda jauh dari lingkungan dan keluarganya. Namun tidak bagi Ibrahim.

       Ia justru tumbuh menjadi anak yang cerdas. Remaja yang sadar akan kesalahan sang ayah dan lingkungannya. Ibrahim berusaha mencari Tuhan sejati. Lalu Ia tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang berani meluruskan kesalahan lingkungannya. Tanpa takut menghadapi resiko. Tak gentar walaupun dibakar hidup-hidup.

       Berkembang dalam keluarga, lingkungan dan pemerintahan yang menyimpang, Ibrahim justru tumbuh menjadi manusia sholeh.

Adakah teori parenting yang dapat menjelaskan fenomena tersebut?

       Lain lagi dengan kisah Keluarga Nabi Yaqub a.s yang juga tak kalah menarik. Sebagai seorang nabi, Yaqub a.s adalah seorang figur ayah yang sempurna. Ia sangat sabar, penyayang dan selalu membimbing anak-anaknya. Tak salah rasanya jika kita sematkan gelar ayah teladan kepada dirinya. Figur ayah teladan seperti ini tentu akan mampu menciptakan keluarga yang sakinah dan anak-anak yang sholeh. Karena ayah adalah kepala keluarga, penentu kebaikan keluarga.

       Paling tidak itulah yang dikatakan oleh berbagai teori dan hipotesis dalam ilmu parenting. Tapi apa yang terjadi? anak-anaknya justru masuk ke dalam sebuah kondisi yang disebut "sibling rivalry" atau persaingan antar saudara yang diakibatkan oleh rasa iri. Persaingan ini bahkan berkembang menjadi sesuatu yang luar biasa, di luar perkiraan.

       Sibling rivalry di keluarga Nabi Yaqub a.s tak hanya terjadi dalam bentuk pertengkaran. Seperti selayaknya sibling rivalry di berbagai keluarga saat ini. Persaingan ini membuat ke-11 anaknya membangun permufakatan jahat untuk membunuh Yusuf yang dianggap anak emas orang tuanya. Akhirnya ke-11 saudara ini bersama-sama menceburkan Yusuf ke dalam sebuah sumur.

       Bagaimana teori parenting menjelaskan fenomena ini?

       Pada kisah pertama, kita melihat Ibrahim tumbuh menjadi anak sholeh di dalam keluarga, lingkungan dan bangsa yang kehidupannya menyimpang dari nilai tauhid.

       Pada kisah kedua, kita mendapati seorang ayah sholeh dan teladan, Nabi Yaqub a.s yang mendidik anak-anaknya dengan pendidikan terbaik di zamannya. Namun mendapati ke-11 anaknya bersekongkol membunuh Yusuf, saudaranya sendiri.

       Kedua kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kesholehan bukanlah sesuatu yang dapat diciptakan manusia. Kesholehan adalah pemberian Allah SWT kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.

       Allah SWT menghendaki Ibrahim tumbuh menjadi manusia sholeh. Sehingga Allah SWT sendirilah yang langsung menjaga dan mendidik Ibrahim hingga kelak diangkat menjadi seorang Nabi dan panutan manusia sepanjang zaman.

Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, da agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

Al-An-'am ayat 75

       Sedangkan kepada keluarga Nabi Yaqub a.s, Allah SWT berkehendak menjadikan ke-11 anaknya tersebut sebagai ujian bagi Nabi Yaqub a.s dan Yusuf, sang calon nabi.

 

PARENTING DAN ISLAM

       Kisah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Yaqub a.s mengandung hikmah dan pelajaran yang dilupakan oleh ilmu parenting. Sebuah hikmah dan pelajaran yang sebenarnya telah kita pahami bersama, yaitu Allah SWT adalah penyebab segala hal yang terjadi di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak Allah SWT.

       Manusia memiliki kehendak bebas dan berusaha mewujudkannya. Namun manusia takkan dapat menentukan hasil akhirnya. Semua hasil akhir tidak selalu berjalan sesuai harapan dan imajinasi manusia. Hanya kehendak Allah SWT yang akan terwujud. Ingatlah kejadian Pasukan Gajah yang menyerang Mekah. Saat itu tak ada satu kekuatan pun yang dapat menahannya. Pasukan Mekah jauh lebih lemah dan pasti kalah. Tapi Allah SWT berkehendak lain. Sehingga seluruh pasukan itu luluh lantak hanya oleh pasukan burung.

       Kewajiban manusia hanyalah berusaha sebaik mungkin, bukan menentukan hasil akhirnya. Proses! bukan hasil. Jalani prosesnya, pasrahkan hasilnya pada Allah SWT.


Tulisan diambil dari buku berjudul "Pola Asuh di Dalam Tauhid: Sebuah Upaya Mengislamkan Pola Asuh Anak" dengan seijin penulis.


Comments

Popular posts from this blog

MENEMBUS TEMBOK GAIB

ILUSI KEBEBASAN

HAKIKAT ILMU