PERIHAL ISLAMISASI PARENTING DAN ISLAMISASI PENGETAHUAN
Sejatinya
sedari awal yang dilakukan penulis adalah meng-Islam-kan parenting. Setelah parenting
di-Islam-kan, ternyata ia berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari
sebelumnya. Sama seperti orang yang berpindah agama dari luar Islam ke dalam
pelukan Islam. Orang ini menjadi baru. Ia meninggalkan semua keyakinan dan
pemikiran yang berhubungan dengan agama lama da berganti sepenuhnya dengan
keyakinan dan pemikiran Islam.
Bagaimana bila ada orang yang masuk Islam
setengah-setengah. Hari Jumat sholat di masjid namun di hari Minggu beribadah
di gereja. Apakah dia Islam atau Kristen? Tidak kedua-duanya. Ia bukan
siapa-siapa dan kehilangan tempatnya baik di agama Islam maupun agama Kristen.
Laksanakan agama secara keseluruhan. Jadilah Kristen yang menyeluruh, bila
ingin berpindah agama ke dalam Islam, jadilah muslim yang menyeluruh pula.
Tidak ada peralihan setengah-setengah.
Begitu juga dengan meng-Islam-kan ilmu
pengetahuan, tak bisa setengah-setengah. Ilmu barat berangkat dari filosofi
yang berlainan dengan Islam. Seluruh definisinya juga berangkat dari akar
budaya dan bahasa yang berbeda. Barat lahir dari akar budaya Romawi dan akar
bahasa Latin. Islam lahir dari rahim yang sepenuhnya baru. Islam tidak berasal
dari budaya dan bahasa Arab. Justru Islam (al-Quran) menjadi patokan baru dalam
berbahasa Arab. Filsafat barat lahir dari manusia barat, sedangkan Islam tidak
lahir dari manusia arab. Islam ajaran yang sepenuhnya baru, lahir dari ajaran
langit.
Sehingga meng-Islam-kan ilmu pengetahuan
barat tidak bisa dilakukan bila para pemikir Islam masih berangkat dari
definisi dan filsafat barat. Ibarat, masuk Islam tetapi masih membawa ajaran
agama lama. Islamisasi ilmu pengetahuan bukanlah merevisi ajaran lama melainkan
upaya menghancurkan pondasi dan bangunan pengetahuan barat sepenuhnya dan
membangun bangunan baru secara keseluruhan. Dalam prosesnya, para pemikir dapat
menggunakan sisa-sisa batu bata dari bangunan barat yang telah roboh, namun
sifatnya hanya sebagai bahan tambahan.
Sumber ilmu Islam adalah ummul kitab
(al-Quran). Semua ilmu harus berangkat dari Al-Quran. Segala sesuatu yang
bertentangan harus diubah atau dihilangkan. Islamisasi ilmu pengetahuan adalah
upaya meng-Islam-kan ilmu secara kaffah (menyeluruh). Umat Islam jangan rendah
diri dan berpikir islamisasi pengetahuan perlu mengambil ajaran barat sebagai
dasar. Al-Quran dibuat dengan ilmu Allah SWT. Ilmu yang takkan habis ditulis
walaupun laut menjadi tinta dan seluruh pohon menjadi pena dan ditambahkan
sebanyak itu lagi. Umat Islam wajib percaya dan berpegang teguh kepada
Al-Quran.
Pemikir besar Islamisasi pengetahuan,
Isma'il Raji Al-Faruqi telah memberikan pondasi yang kuat. Menurutnya, landasan
islamisasi ilmu pengetahuan adalah tauhid yang ia jabarkan dalam
prinsip-prinsip pokok metodologis Islam dan terdiri dari,
1.
Keesaan (ketunggalan)
Allah SWT
2.
Kesatuan alam semesta
(manunggalnya alam semesta dengan Allah SWT)
3.
Kesatuan kebenaran dan
kesatuan pengetahuan (seluruh pengetahuan dan kebenaran bersumber dari Allah
SWT)
4.
Kesatuan hidup (seluruh
kehidupan bergantung pada Allah SWT dan berjalan sesuai kehendak-Nya)
5.
Kesatuan umat manusia
(seluruh manusia manunggal dengan Allah SWT - berasal dari Allah SWT, berada di
bawah kuasa-Nya dan akan kembali kepada-Nya)
(Faruqi,
1984)
Penulis menggunakan pendekatan ini dalam
menyusun landasan pengasuhan dan pendidikan anak. Penulis menjabarkannya dalam bagian
II: kerangka teori yang terdiri dari :
1.
Tauhid
2.
Tujuan hidup manusia
3.
Fitrah
4.
Ta'dib
dan Tarbiyah
Tarbiyah adalah bagian
dari ta'dib. Ta'dib berjalan di dalam fitrah. Dan semua ini manunggal dengan
Allah SWT (tauhid). Tidak boleh ada yang keluar dari tauhid. Keluar dari
prinsip tauhid artinya keluar dari Islam.
Ta'dib
yang digunakan penulis berangkat dari pemikiran tokoh besar Islamisasi
pengetahuan lainnya yaitu Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ta'dib adalah proses meng-adab-kan manusia. Ilmu dalam Islam harus
berdampak pada amal perbuatan. Ilmu dan amal, itulah adab. Manusia ber-adab
mampu berpikir dan bertindak (amal)
adil (adl). Adl adalah menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya di dalam
sistem Allah SWT, sesuai kehendak-Nya. Singkatnya, sesuai dengan Al-Quran.
Dalam meng-Islam-kan parenting, penulis menggabungkan pemikiran dua orang besar ini.
Dalam pandangan penulis, penggabungan keduanya dapat menjadi senjata ampuh
dalam meng-Islam-kan seluruh ilmu. Ilmu ekonomi, politik, sosial, budaya,
biologi, fisika, kimia, intinya seluruh ilmu dpat diletakkan dalam konteks
tauhid dan adab. Ketika parenting
diletakkan dalam konteks tersebut, ia langsung berubah total.
Penulis tidak mau berangkat dari
pemahaman barat atas parenting lalu
mengembangkannya dengan memberi polesan-polesan Islam. Ini sama saja merubah
ornamen gereja menjadi masjid, tetapi fungsi dasarnya tetap gereja. Seperti
orang non-muslim masuk Islam, namun dalam memandang Islam, ia masih berpatokan
pada ajaran agama lamanya. Ketika ada ajaran Islam yang tidak sesuai dengan
ajaran agama lamanya, ia menyesuaikan pandangan Islam supaya seirama dengan
agama lamanya. Ilmu yang setengah-setengah seperti ini tidak bermanfaat. Karena
sebab itulah, walaupun upaya Islamisasi pengetahuan telah berjalan puluhan
tahun namun seakan - akan ilmu Islam masih mengekor pada ilmu sekuler. Padahal
sejatinya, Islam dan paham sekuler berjalan pada rel yang berbeda.
Parenting
harus diberangkatkan dari tauhid. Bila secara makna, parenting didefinisikan sebagai purposive
activities aimed at ensuring the survival and development of children oleh
Hoffman, maka yang harus dilakukan adalah melihat ke dalam Al-Quran, bagaimana
hubungan orang tua dan anak ditempatkan. Lalu melihat ke dalam Al-Quran makna
pendidikan dan pengasuhan anak. Siapakah tokoh yang paling berperan dalam
pengasuhan dan apa tujuan pengasuhan dan pendidikan dalam Al-Quran.
Tokoh yang paling berperan dalam
pendidikan dan pengasuhan anak dalam Islam ternyata Allah SWT. Orang tua dan
anak hanyalah hamba Allah yang masing-masing memiliki hak dan kewajiban
berbeda. Dan masing-masing akan mempertanggung jawabkan amalnya dihadapan Allah
SWT. Orang tua tidak memiliki tanggung jawab memastikan hasil pendidikan dan
pengasuhan yang dilakukan olehnya. Urusan hasil sepenuhnya hak Allah SWT.
Sehingga tujuan pengasuhan dan pendidikan anak dalam Islam bukanlah seperti
pemahaman parenting yang menganggap
orang tua sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas nasib anak. Tujuan
pengasuhan dan pendidikan anak dalam Islam adalah melaksanakan perintah Allah
SWT, itu saja. Dan memang hanya itulah tujuan hidup manusia, berasal dari Allah
SWT dan akan kembali kepada-Nya. Allah SWT adalah pusat dari segalanya.
Seluruh ilmu juga memiliki tujuan yang
sama, untuk kembali kepada-Nya. Tujuan ilmu ekonomi bukanlah menciptakan
kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Tujuannya hanya satu, melaksanakan
perintah Allah SWT. Kemakmuran dan kesejahteraan manusia hanyalah dampak dari
pelaksanaan perintah Allah SWT di semua bidang termasuk bidang yang berhubungan
dengan ekonomi. Seluruh ilmu memiliki tujuan yang sama dan semua kebaikan yang
menjadi tujuan utama masing-masing ilmu saat ini, sejatinya hanyalah dampak
dari pelaksanaan perintah Allah SWT di bidangnya.
Inilah islamisasi pengetahuan yang
sebenarnya. Sebuah upaya meng-Islam-kan ilmu, meng-Islam-kan pola pikir
manusia. Meletakkan tauhid dan adab sebagai pondasi utama. Menjadikan Allah SWT
sebagai tujuan utama hidup manusia.
Tulisan diambil dari buku berjudul "Pola Asuh di Dalam Tauhid: Sebuah Upaya Mengislamkan Pola Asuh Anak" dengan seijin penulis.
Comments
Post a Comment