PERJALANAN MENJADI ORANG TUA DAN MENGALAMI KEAJAIBAN

 

27 Febuari 2016, anak pertama kami lahir. Saya menemani istri melahirkan di bidan. Melihatnya menahan sakit luar biasa, bertaruh nyawa, mencucurkan keringat dan air mata. Sungguh luar biasa pengorbanan seorang istri. Pengalaman ini meneguhkan tekad dalam jiwa. Tekad untuk tidak mensia-siakan pengorbanan istri. Saya harus dapat menjadi suami dan ayah yang baik.

                Tahun 2016, kami masih tinggal di kos-kosan yang hanya terdiri dari 1 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Sempit, pengab dan panas. Saya hanyalah PNS biasa dan istri sudah keluar kerja karena ingin mengabdikan diri menjadi ibu yang baik. Istri meninggalkan pekerjaannya sebagai penyiar berita di TVRI dan hobinya sebagai pembawa acara (MC). Padahal ia lulus kuliah dengan predikat Cum Laude S1 Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Cita-citanya yang ingin menjadi presenter terkenal telah dikubur. Tugas menjadi ibu dan istri menjadi lebih utama.

Kami tak memikirkan masalah ekonomi. Pokoknya, lillahi ta’ala. Entah kenapa, pikiran dan hati kami tiba-tiba memiliki keyakinan terhadap janji Allah Swt. Janji yang menyatakan bahwa siapapun yang berusaha melaksanakan perintah-Nya, tidak akan kuatir perihal rezeki. Pikiran dan hati kami tiba-tiba saja hanya berpikir satu tekad. Tekad itu berbunyi seperti ini,

“Ya Allah Swt, kami ingin mengurus amanahmu sebaik mungkin. Kami percaya Engkau akan memberikan rezeki bagi kami”.

Ketika memikirkan hal ini, kami merasa heran sendiri. Sebab, kami bukanlah ahli ibadah apalagi penghafal Al-Quran. Ibadah kami biasa-biasa saja. Bahkan, kami tak pernah yakin ada ibadah kami yang diterima Allah Swt. Produksi dosa harian pun senantiasa berlimpah. Terutama dosa kecil yang tak sadar dilakukan. Orang tua kami pun bukanlah tokoh agama ataupun ulama, bahkan ustad pun bukan. Lalu darimana sumber keyakinan ini? Mengapa kami siap menderita demi melakukan perintah Allah Swt untuk total merawat anak yang merupakan amanahnya? Kami benar-benar tidak tahu. Padahal, akan lebih mudah jika saya dan istri tetap bekerja. Penghasilan bulanan tentu lebih banyak. Hidup tentu akan lebih mudah. Uang memang mempermudah banyak hal. Tapi justru kemudahan ini yang kami tolak.

Memang kami tidak kaya, namun Alhamdulillah, tak pernah kelaparan. Walaupun memang ada saja waktu di mana kami harus mengumpulkan uang receh demi bisa makan dan bayar sewa kos. Dan anehnya, kami tak pernah kuatir mengenai harta serta sangat menikmati proses mendidik dan mengasuh anak. Pertengkaran suami-istri diantara kami pun sangat jarang terjadi. Kami bahkan tidak pernah memperdulikan apa kata orang. Entah kenapa, hidup terasa begitu indah, membahagiakan, menyenangkan.

                Selama mengasuh anak, saya sering bolak-balik kantor-kos pada jam istirahat. Pulang ke kos untuk melihat kondisi istri dan anak. Kebetulan jarak antara kantor dan kos cukup dekat, kurang dari 10 menit perjalanan. Jika saya dapati kos-kosan berantakan dan tak ada lauk makan siang, saya tidak marah. Justru saya berpikir, istri tidak memiliki waktu untuk membersihkan kos dan memasak karena terlalu sibuk mengurus anak. Dan ini aneh. Bukankah merupakan hal wajar bagi suami untuk mendapatkan pelayanan istri di jam istirahatnya. Disiapkan makan dan minumnya, serta tempat beristirahatnya. Namun justru jika istri melakukan hal tersebut, saya akan menegurnya. Karena dalam pikiran saya, seakan sudah tertanam sebuah program untuk tidak menjadikan istri sebagai pelayan suami serta lebih mementingkan tugasnya sebagai seorang ibu.

Jadi saya melakukan hal sebaliknya. Saya membantu istri membersihkan kos dan membelikan makan siang. Setelah melakukan itu, biasanya saya akan segera kembali kekantor. Namun, jika masih ada sedikit waktu, saya akan tidur siang dalam waktu singkat sekitar 10-15 menit. Selesai bekerja di kantor, saya pun segera pulang untuk melihat kondisi istri dan anak.

Saya mengatakan hal ini bukan karena ingin dianggap baik. Justru sebaliknya, karena saya sendiri masih heran, kenapa bisa menjalani semua ini. Saya sendiri merasa tidak pantas menyebut diri seorang muslim, apalagi mukmin. Benar-benar jauh panggang dari api. Jadi, menurut kami, satu-satunya penjelasan yang dapat menjadi dasar dari keheranan kami sendiri atas kepercayaan terhadap janji Allah Swt terletak pada satu realitas, bahwa Allah Swt merupakan penggerak utama segala hal di alam semesta.

Allah Swt menggerakkan manusia, memberikan ilham bagi manusia dan terkadang memberikan hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kami pun berkeyakinan bahwa selama ini Allah Swt yang menggerakkan kami. Meneguhkan semangat berkorban dan mengisi hati dengan kebahagiaan.

Mungkin ada yang bertanya, apakah syarat untuk menjadi orang yang dipilih-Nya untuk menerima ilham dan hikmah. Jawabannya saya yakin hanya satu, tidak ada syarat apapun karena semuanya berdasarkan kehendak Allah Swt semata. Kami yakin bahwa sebenarnya tak ada satupun tindakan manusia yang bisa mempengaruhi Allah Swt, bahkan ibadah sekalipun. Allah Maha Segala-Nya, masuk akalkah jika manusia bisa merayu Sang Maha Segalanya dengan tindakan dan kata-katanya. Sungguh tidak mungkin.

Pemahaman inilah yang pertama-tama menggerakkan kami untuk memahami segala yang terjadi pada kami sebagai belas kasih Allah Swt. Ini semua terjadi bukan karena kami ahli ibadah, atau karena kami suci dan jauh dari dosa. Dan, belas kasih Allah Swt tidak hanya berhenti di sini. Allah Swt terus-menerus membuktikan pada kami kuasa-Nya. Paling tidak ada dua peristiwa yang menjadi bukti atas keyakinan tersebut. Inilah dua keajaiban yang dapat kami ceritakan.

KEAJAIBAN PERTAMA

                Setelah anak pertama lahir, tak berapa lama kemudian istri memasang alat kontrasepsi jenis spiral. Tujuannya untuk menunda kehamilan dan memberI jarak usia antara anak pertama dan kedua, paling tidak empat tahun. Tetapi, kehendak Allah Swt memang tak dapat ditolak. Istri tetap hamil.

                Kami kemudian memeriksakan kandungan tersebut. Dokter kandungan yang menjadi langganan kami sejak anak pertama berkata bahwa spiral di dalam bagian reproduksi harus diambil. Jika tidak, bayi dapat dikuatirkan lahir cacat atau mengalami keguguran.

                Kami pun setuju. Proses pengambilan spiral ditangani oleh sang Dokter dan dua asistennya, lengkap dengan berbagai alat termasuk USG. Setelah lama berusaha, sang dokter akhirnya berkata, spiral istri saya tidak bisa diambil karena tidak terlihat. Anehnya, di USG spiral tersebut terlihat sangat jelas. Namun ketika hendak diambil, tanda-tanda keberadaan spiral menghilang. Inilah sebuah kejadian aneh tapi nyata. Tak ayal dokter beserta dua asisten tersebut menyerah. Untuk mengurangi bahaya spiral terhadap janin, dokter memberikan obat penguat kandungan dan vitamin.

                Saya dan istri pulang dalam kondisi tak menentu. Anak kedua kami berada dalam bahaya. Entah dia akan lahir normal, atau lahir cacat, atau mungkin keguguran. Istri menangis di dalam taksi sepanjang perjalanan pulang. Saya hanya bisa memeluknya, sambil memangku anak pertama.

                Esoknya, saya terus memikirkan kondisi kandungan istri. Tak sengaja saya melihat status di sebuah media sosial. Di status itu saya melihat ada sepasang suami-istri yang memeluk anak kecil tanpa tangan dan kaki. Mereka memeluknya dengan sepenuh hati dan keceriaan. Mereka menerima kondisi anaknya apa adanya. Setelah melihat gambar tersebut, saya membaca doa dalam hati. Doa yang takkan pernah saya lupakan seumur hidup.

“Ya Allah, saya akan terima seperti apapun kondisi anak kedua saya..seperti apapun dia…saya akan tetap rawat sepenuh hati. Tapi, jika Engkau menghendaki pembela Islam yang tangguh, berilah hamba anak yang sempurna”

                Ketika berdoa, saya membayangkan anak kedua lahir dalam kondisi cacat tanpa tangan dan kaki serta menderita kelemahan mental. Dan, saya benar-benar ikhlas untuk menerima hal tersebut. Serta bertekad untuk tetap merawatnya sepenuh hati.

Itulah doa saya. Sekitar satu minggu kemudian, kami kembali ke dokter kandungan. Namun kali ini kami mencoba dokter kandungan berbeda. Tujuannya sama, untuk mengambil spiral di dalam tubuh istri. Ketika sampai di sana, dan istri diperiksa menggunakan USG, sang dokter tiba-tiba berseru…”Nah ini kan spiralnya udah keluar..udah setengah jalan dia…” Setelah berkata seperti itu, sang dokter langsung mengambil spiral tersebut tanpa alat apapun, hanya memakai sarung tangan.

                Inilah keajaiban tersebut. Spiral yang sebelumnya menghilang secara gaib, tiba-tiba keluar dengan sendirinya. Bahkan dokter berkata, tanpa datang kesini pun, spiral akan tetap keluar dengan sendirinya. Lalu setelah mencapai usia kanduangan 9 bulan, anak kedua kami pun lahir sempurna dengan berat 3,7 kg dan panjang 53 cm pada 17 April 2018. Inilah kebesaran Allah Swt.

KEAJAIBAN KEDUA

                Keajaiban kedua juga tak kalah luar biasanya dan berhubungan dengan gempa besar yang menimpa Pulau Lombok tahun 2018. Saat itu, kedua anak kami sedang sakit. Baik anak pertama dan kedua sama-sama menderita panas tinggi, batuk flu, diare, muntah-muntah. Lima menit sebelum gempa terjadi, kami sedang menggendong anak. Saya menggendong anak pertama, istri menggendong anak kedua. Sama sekali belum sempat ke dokter karena sakit terjadi tiba-tiba. Keduanya rewel tak mau makan, tak mau diletakkan di kasur, hanya mau digendong. Lalu tiba-tiba bumi bergoncang keras.

                Kami berdua segera berhamburan keluar. Bumi bergoncang cukup lama. Langit sempat menyala merah, bukan petir namun semacam gelombang merah yang memancar kuat. Setelah itu, listrik padam seketika. Setelah gempa reda, tak lama, muncul pemberitahuan akan terjadi tsunami. Kepanikan melanda semua orang di BTN tempat kami mengontrak rumah. Ya, saat itu kami sudah keluar dari kos dan mendapat rezeki mengontrak sebuah rumah tipe 36.

                Dalam kepanikan luar biasa, dengan sangat aneh, tiba-tiba saya ingin mengajak istri masuk ke rumah. Ketika kami masuk, tetangga depan rumah memanggil saya dan menawarkan tumpangan di mobilnya untuk segera mengungsi menuju tempat tinggi guna menghindari tsunami. Saya dan istri kemudian membicarakan tawaran tersebut. Sebuah pembicaraan yang sangat singkat, dalam situasi penuh kepanikan. Pembicaraan itu masih dengan jelas saya ingat hingga sekarang,

“Bunda, pak Wahyu nawarin kita buat ngungsi pake mobilnya. Tapi kalo ayah yakin, ini ga ada tsunami. Dan anak juga lagi sakit. Kalo kita kelamaan di luar, bisa tambah parah sakit anak-anak. Kita tetep di dalam rumah ya”, ujar saya.

“Kalo tsunami beneran gimana”,Tanya istri

“Bunda, ayah di sini juga mempertaruhkan nyawa. Ayah ga akan ninggalin bunda dan anak-anak. Kita tetap di dalam ya. Tidur di dalam, biar anak bisa istirahat”

“Oke kalo begitu ayah, tapi kalo kita ga pergi, ayah juga harus meyakinkan tetangga supaya jangan semuanya pergi. Biar kita ga sendiri di kompleks.” Pinta Istri.

                Saya pun segera keluar untuk menolak tawaran tetangga serta untuk meyakinkan tetangga yang masih tersisa supaya tidak ikut pergi mengungsi menghindari tsunami. Hasilnya, ada tiga rumah yang memilih tidak mengungsi dalam blok kami. Setelah itu, saya kembali masuk ke rumah. Kami tidur bersama dalam satu kasur. Saya dan istri tidak bisa tidur tentu saja, karena gempa susulan terus- menerus datang dalam skala goncangan yang lebih kecil. Namun kedua anak kami tidur nyenyak. Tsunami memang tak terjadi dan Esok harinya, secara ajaib, kedua anak kami sembuh total.

                Peristiwa gempa ini mengandung dua keajaiban. Pertama, dengan sangat aneh mental saya tiba-tiba mampu tenang dalam situasi kepanikan luar biasa dan memutuskan untuk tidur di dalam rumah dengan ancaman isu tsunami dan gempa susulan datang silih berganti. Bagi saya ini sangat aneh, karena dalam kehidupan keseharian, saya seringkali panik dan berpikir berlebihan. Sama dengan istri. Namun, malam itu, kami bisa begitu yakin, mempertaruhkan nyawa dengan tidur di dalam kamar serta menolak mengungsi. Bagi yang sudah pernah mengalami gempa besar, pasti akan tahu, betapa tidak mungkinnya mengambil keputusan seperti itu.

                Kedua, tujuan kami tetap di dalam rumah memang demi anak. Jika kami lama berdiam di luar, sakit anak-anak kami akan semakin parah. Dan ajaibnya, keesokkan harinya kedua anak kami sembuh tanpa obat. Padahal, malam itu keduanya berada dalam kondisi menyedihkan. Panas tinggi, batuk disertai flu serta diare dan muntah. Semua sembuh seketika hanya dalam satu malam, tanpa meminum obat dalam bentuk apapun.

                Kami yakin, bahwa, malam itu, Allah Swt meningkatkan kekuatan mental kami secara tiba-tiba serta menyembuhkan kedua anak kami. Karena kami sadar sepenuhnya, kami tak pernah memiliki kekuatan mental sebesar itu. Begitu besarnya kekuatan tersebut hingga kami siap mati diterjang tsunami atau gempa susulan besar. Jika bukan kehendak Allah Swt, tak mungkin semua ini terjadi. Allah Swt memang Maha Menjaga Hamba-Nya. Allah Swt Maha Menggerakkan Hamba-Nya.

                Seluruh keajaiban ini semakin mempertebal keyakinan kami bahwa Allah Swt memang Maha Menggerakkan Segala Sesuatu. Allah Swt merupakan Sang Maha Penentu Segalanya. Allah Swt Maha Tunggal dan menjadi pusat segala sesuatu (Surat Al-Ikhlas ayat 1 dan 2). Inilah keyakinan yang kami pegang. Inilah Tauhid. Kami yakin, seluruh upaya pengasuhan dan pendidikan kami sejatinya berada di dalam naungan tauhid.


Tulisan diambil dari buku berjudul "Pola Asuh di Dalam Tauhid: Sebuah Upaya Mengislamkan Pola Asuh Anak" dengan seijin penulis.

Comments

Popular posts from this blog

MENEMBUS TEMBOK GAIB

ILUSI KEBEBASAN

HAKIKAT ILMU