MENG-ISLAMKAN PARENTING DAN MANFAATNYA BAGI PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
Selain mencegah dari rasa sombong dan menambah kesabaran, memasukkan parenting ke dalam Islam juga memberikan keuntungan bagi pengembangan dan pelaksanaan parenting.
Islam mengajarkan kita untuk berusaha
memahami dan menerima kehendak Allah SWT. Di sini perlu disadari bahwa manusia
tak bisa memahami sepenuhnya kehendak Allah SWT. Termasuk memahami seluruh
hukum-Nya yang berkaitan dengan pengasuhan. Baik dari sisi psikologi,
sosiologi, biologi, genetika dan lainnya. Sehingga sampai kapan pun kita akan
selalu diliputi oleh ketidaktahuan.
Manusia hanya bisa berusaha
mendekati kebenaran, namun takkan bisa mencapainya. Karena kebenaran hanya
milik Allah SWT. Sehingga seluruh pengetahuan manusia saat ini termasuk ilmu
psikologi perkembangan dan parenting
masih sangat terbatas. Ilmu manusia masih sangat jauh dari sempurna. Sehingga
penerapannya bisa saja memberikan hasil yang berbeda daripada yang dinyatakan
oleh teori-teori dan hasil percobaan para ilmuan psikologi perkembangan dan parenting.
Kesadaran akan keterbatasan ilmu dan
pengetahuan ini sejatinya memberikan manfaat besar bagi para ilmuan, yaitu :
·
Para ilmuan akan terus berendah hati
karena sadar ilmunya belum sempurna (terhindar dari sifat sombong
·
Tidak berputus asa ketika teori yang
dihasilkan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan
·
Memberi semangat para ilmuan untuk terus
mempelajari hukum-hukum Allah SWT yang berhubungan dengan ilmu yang digeluti. Islam
sedari dulu tidak pernah mengekang pertumbuhan ilmu dan pengetahuan. Keduanya
justru menjadi alat untuk beribadah kepada Allah SWT dan meningkatkan iman
Memasukkan parenting ke dalam Islam akan merombak perspektif/cara
pandang/ideologi secara radikal. Tentu saja yang dimaksud bukanlah Islam radikal
yang suka meneror menggunakan bom, yang penulis yakini tidak pernah ada di
Indonesia. Radikal di sini adalah menyingkirkan ego manusia yang selama ini
merasa menjadi "sebab" dari sesuatu (dalam hukum sebab-akibat) dan
memberikan kursi kekuasaan tersebut pada Allah SWT.
Pandangan ini meletakkan Allah SWT
dalam posisi dominan yang menentukan hasil. Manusia hanya mampu berusaha
sebaik-baiknya dengan terus mempelajari dan membuka tabir hukum-hukum Allah
SWT. Sehingga meng-Islam-kan parenting
adalah upaya memasukkan parenting ke
dalam perspektif tauhid yang mengakui eksistensi dan ke-Maha Kuasa-an Allah.
Pendekatan seperti ini sangat jauh
berbeda dengan Islamic parenting yang
dijelaskan sebelumnya, yang pada hakikatnya merupakan upaya penggabungan parenting barat dengan Islam.
Penggabungan memang sekilas terlihat baik, namun sejatinya ia menempatkan Islam
setara dengan ilmu parenting barat
yang lahir dari psikologi perkembangan. Islam tidaklah setara dengan ilmu parenting. Islam mencakup ilmu parenting
dan seluruh ilmu secara keseluruhan. Sumber seluruh ilmu adalah Al-Quran. Inilah
perbedaan yang harus disadari.
Pandangan yang menolak Allah SWT
sebagai penyebab utama segala hal, sejatinya menolak eksistensi Allah SWT. Dan
menempatkan manusia serta ilmu sebagai
berhala yang menggantikan kebesaran Allah SWT. Penolakan eksistensi Allah SWT
dalam ilmu memang sebuah penyakit yang sedang menimpa umat Islam saat ini.
Comments
Post a Comment